Monday, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 December 2018

Monday, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 December 2018

Mengapa Jokowi tak Mau Lagi Bagi-Bagi Sepeda?

Kamis 06 Dec 2018 18:16 WIB

Presiden Joko Widodo menunjukkan buku ketika menghadiri milad satu abad Madrasah Muallimin dan Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta di Yogyakarta, Kamis (6/12/2018).

Presiden Joko Widodo menunjukkan buku ketika menghadiri milad satu abad Madrasah Muallimin dan Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta di Yogyakarta, Kamis (6/12/2018).

Foto: Antara/Wahyu Putro A
Jokowi kini mengganti hadiah kuis dengan swafoto.

RAKYATKU.ME, YOGYAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengganti hadiah kuis saat melakukan kunjungan kerja (kunker) ke daerah dari sepeda menjadi foto bersama Presiden. Foto itu pun langsung diberikan dalam bentuk cetakan (print).

"Saya minta satu siswa maju tapi yang maju jangan minta sepeda, sementara sepeda tidak bisa kita berikan," kata Presiden di Madrasah Muallimaat Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (6/12).

Presiden hadir dalam acara milad ke-100 tahun Madrasah Muallimin Muallimat Muhammadiyah, Yogyakarta. Seorang siswa kelas XI Madrasah Aliyah Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta bernama Hendrawan Diko lalu maju.

Bersama Diko, Azizah Nabir, siswi sekolah yang sama kelas XII yang biasa dipanggil Icha. Presiden lalu mengajukan pertanyaan ke Diko dan Icha.

"Tadi sudah saya sebutkan infrastruktur yang sedang dibangun pemerintah, sebutkan apa saja dan manfaatnya apa saja?" tanya Presiden.

"Jalan tol, bendahara, jembatan, airport," jawab Diko lancar.

"Lalu apa manfaatnya?" tanya Presiden.

"Memudahkan mobilitas dari satu daerah ke daerah lain, juga sebagai salah satu sarana untuk mempersatukan bangsa kita karena bangsa kita bangsa yang besar," jawab Diko disambut dengan tepuk tangan santriwan dan santriwati yang lain.

"Memang yang saya tahu yang daftar banyak ke madrasah ini banyak, yang daftar 800 orang, yang masuk 300 orang, jadi sudah terseleksi dengan baik dan memang baik-baik," kata Presiden.

Presiden selanjutnya mengajukan pertanyaan kepada Icha.

"Kita memiliki 17 ribu pulau dan 714 suku, sebutkan lima suku dan tinggalnya di pulau mana?" tanya Presiden.

 "Suku Dayak di Kalimantan, suku Jawa di Pulau Jawa, suku Asmat di Pulau Papua, suku Bugis di Pulau Sulawesi dan suku Batak di Pulau Sumatra," jawab Icha.

"Kesimpulan saya, siswa siswi madrasah muallimin dan mualimaat cerdas-cerdas, jawabannya tepat, tepat, tepat, nanti yang maju ke depan saya beri, sepeda tidak boleh, fotonya ada? Oh itu baru disiapkan," ungkap Presiden dengan yakin.

Diko dan Icha pun bersalaman dengan Presiden, tidak lama, keduanya kembali ke panggung karena Presiden memberikan foto dirinya dengan Diko dan Icha masing-masing sudah tercetak. "Uni cepat Diko berfoto dengan saya, coba tunjukkan ke teman-temanmu. Ini Icha kembali lagi, yang lain nanti bareng-bareng foto," kata Presiden.

Menurut Presiden, ia memang sengaja mengganti hadiah kuis sepeda menjadi foto. Alasannya, karena selain menjadi Presiden RI, saat ini ia pun adalah calon presiden (capres) 01 untuk pemilihan presiden 2019.

"Ya yang disuruh maju kan mesti inginnya dapat sepeda, tapi dari pada nanti menjadi kontroversi ya sekarang kita beri foto saja. Foto cepat saja sekarang, tinggal klik. Albumnya langsung diberikan. Kelihatannya malah lebih senang itu," ungkap Presiden.

Selain memberikan foto yang sudah tercetak, Presiden Jokowi kini juga kerap melakukan swafoto. Swafoto tersebut misalnya ia lakukan saat peringatan hari Korpri (29/11) dan hari Guru Nasional (1/12).

"Ya kan kita tidak boleh memberikan sesuatu. Kalau ketemu dengan masyarakat memang harus ada alat komunikasinya. Dulu alat komunikasinya misalnya kita beri untuk kerudung atau syal, lalu sepeda. Tapi sekarang kan nanti dari pada jadi ramai ya sekarang ini (foto) yang gampang, murah meriah, enggak bayar," jelas Presiden.

Selain di Madrasah Muallimaat Muhammadiyah, Presiden Jokowi kemarin juga melayani permintaan swafoto mahasiswa, mahasiswi, dosen, dan staf Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta. Lebih dari satu jam Jokowi berswafoto di Unisa.

“Saya sudah tidak membagi-bagi sepeda, syal, buku dan lain-lain, daripada nanti kontroversi. Kita kan tidak boleh memberikan sesuatu, Karena itu sekarang kami beri foto saja. Prosesnya juga cepat,” kata Jokowi sambil tersenyum pada wartawan.

Baca juga

Peringatan dari Bawaslu

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sudah memberikan peringatan sejak April lalu. Anggota Bawaslu Rahmat Bagja, menyarankan, Presiden Jokowi tidak melakukan bagi-bagi sepeda saat sudah resmi menjadi peserta Pemilu 2019. Namun, pembagian beberapa hal dalam rangka program pemerintahan tetap bisa dilakukan.

"Kalau bagi-bagi sepeda tidak bolehlah. Kami harap program bagi-bagi itu tidak dilaksanakan pada saat masa kampanye Pemilu 2019 mendatang," ujar Bagja, Selasa (10/4).

Apalagi, kata dia, jika kegiatan bagi-bagi sepeda itu dilakukan atas nama pribadi. Sebab, hal itu justru berpotensi menguatkan kampanye oleh dirinya sendiri.

"Bagi-bagi secara pribadi juga tidak boleh, karena termasuk kampanye. Kalau sudah jadi capres dan sudah memasuki tahapan kampanye, kami sarankan tidak (melakukan bagi-bagi)," kata Bagja.

Namun, pada saat masa kampanye Pemilu 2019, menurut Bagja, presiden masih boleh melakukan beberapa pembagian. Misalnya, membagi-bagikan sertifikat tanah, meresmikan jalan, meresmikan jembatan, meresmikan jalan tol, dan sebagainya.

"Yang termasuk program pemerintah boleh dilakukan. Saran dari kami tersebut pun untuk diberlakukan pada saat masa kampanye pemilu. Sementara kalau saat ini presiden masih melakukan bagi-bagi sepeda, masih boleh," tutur dia.

Masa kampanye Pemilu 2019 sendiri telah dimulai sejak 23 September 2018. Masa kampanye dimulai tepat tiga hari setelah penetapan calon anggota legislatif (caleg) dan pasangan capres-cawapres pemilu yang dijadwalkan pada 20 September, di mana pasangan Jokowi-KH Ma'ruf Amin mendapatkan nomor urut 01 dan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapatkan nomor urut 02.

photo

Profil Joko Widodo

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Rakyatku

BERITA LAINNYA