Senin, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 Desember 2018

Senin, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 Desember 2018

Harga Daging Ayam di Kupang Tembus Rp 65 Ribu per Ekor

Jumat 07 Des 2018 00:10 WIB

Ayam potong (ilustrasi)

Ayam potong (ilustrasi)

Foto: Antara
Kenaikan harga juga terjadi pada cabai merah

RAKYATKU.ME, KUPANG -- Harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bergerak naik dalam beberapa pekan belakangan. Kini, harga jual daging ayam mencapai Rp 65 ribu per ekor.

Elis Kurniawati, salah seorang pedagang daging ayam yang ditemui Antara di Pasar Kasih Kupang, Kamis (6/12), mengatakan saat ini harga daging ayam ukuran besar sudah mencapai Rp 65 ribu per ekor. Sebelumnya, kata dia, harga daging ayam sebesar itu hanya mencapai Rp 50 ribu per ekor.

"Harga daging ayam, saya yakin akan terus bergerak naik jika tidak diantisipasi secepatnya oleh pemerintah, karena sebentar lagi akan datang hari raya Natal dan Tahun Baru 2019," katanya.

Ia menambahkan harga daging ayam ukuran kecil, saat ini juga mengalami kenaikan sekitar Rp 10 ribu, yakni dari Rp 45 ribu per ekor menjadi Rp 55 ribu per ekor.

Menanggapi kenaikkan harga daging ayam tersebut, Arni, salah seorang ibu rumah tangga yang ditemui Antara di Pasar Oebobo Kota Kupang, mengaku tak kaget lagi dengan kenaikkan harga daging ayam tersebut.

"Saya tidak kaget kalau harga daging ayam naik. Itu wajar-wajar saja karena sebentar lagi mau Natal dan Tahun Baru," katanya ketika sedang membeli dua ekor ayam dengan harga Rp 65 ribu per ekor.

Ia mengatakan setiap menjelang hari raya keagaman, komoditas utama seperti ayam, dan cabai merah selalu saja mengalami kenaikan harga, meski tidak terlalu signifikan. Harga cabai merah yang biasa dijual dengan harga Rp 15 ribu per kg, kini naik menjadi Rp 20 ribu per kg.

"Ini fenomena Natal yang patut dipahami oleh konsumen," ujarnya.

Kabid Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perdagangan NTT Kirenius Tallo yang dihubungi secara terpisah menjelaskan kenaikan harga daging ayam dan cabai merah saat ini akibat terbatasnya stok di tingkat pedagang.

"Kami sedang mencari upaya untuk menormalkan kedua harga komoditas tersebut," katanya dan mengharapkan Bulog Divre NTT untuk terus bergerak dalam mengamati perkembangan harga pasar agar secepatnya melakukan operasi pasar.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Rakyatku

BERITA LAINNYA